Menurutnya, kafe inklusif bukan satu-satunya program yang sedang dirancang. KDD juga berencana mengembangkan kebun hidroponik, taman baca, galeri karya difabel, hingga berbagai usaha kerajinan tangan yang dapat menjadi sarana pengembangan potensi anggota.
Melalui program-program tersebut, penyandang disabilitas diharapkan memiliki ruang yang lebih luas untuk berkarya dan menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menjadi produktif.
“Kami ingin ada galeri yang menampilkan hasil karya teman-teman difabel, ada hidroponik, taman baca, dan berbagai kegiatan yang bisa menjadi wadah pengembangan bakat mereka,” katanya.
Namun, Dadi mengakui perjalanan mewujudkan cita-cita tersebut tidaklah mudah. Keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan utama yang harus dihadapi.
“Semua itu membutuhkan kerja keras dan biaya yang tidak sedikit. Saat ini kas yang kami miliki baru cukup untuk membangun gubuk sederhana ini dengan fasilitas seadanya,” ungkapnya.
Di sisi lain, KDD juga terus mendorong terwujudnya pelayanan publik yang lebih inklusif di tingkat desa. Salah satu langkah penting yang dinilai perlu dilakukan adalah penyediaan data penyandang disabilitas yang akurat sebagai dasar penyusunan program pembangunan.










