“Setelah puasa selesai, beliau sehat sekali. Sudah olahraga dan tidak ada keluhan berarti. Dokter juga terus memantau dan melakukan kontrol secara rutin,” katanya.
Namun menjelang Iduladha, tepatnya beberapa hari sebelum wukuf di Arafah, kondisi emosional almarhum berubah. Ia kerap menangis ketika mengingat anggota keluarganya yang sedang menunaikan ibadah haji di Arab Saudi.
“Beliau terus menangis. Katanya, seharusnya tahun ini bisa berangkat haji, tetapi ternyata tidak bisa. Menjelang wukuf, beliau semakin sering menangis karena teringat hal itu,” tutur KH Aris.
Meski demikian, tidak ada tanda-tanda kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan. Pada hari kejadian, KH Adib masih berbincang dengan orang-orang di sekitarnya dan beraktivitas seperti biasa.
“Bahkan masih sempat meminta santri membeli pisang dan rujak. Tidak ada tanda-tanda apa pun,” katanya.
Tak lama kemudian, KH Adib mendadak pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, detak jantung almarhum sempat berhenti sesaat sebelum akhirnya mendapat penanganan medis.










