“Kenapa kita pilih pola Pesantren Buntet ini, karena di Buntet ini punya sejarah yang sangat panjang. Pesantrennya kita tahu sendiri, menggabungkan antara kitab kuning dan kitab putih,” katanya.
Nasaruddin juga mengaku memiliki kedekatan dengan keluarga besar Pondok Pesantren Buntet. Bahkan, ia mengenang sejumlah tokoh pesantren yang pernah menempuh pendidikan di luar negeri.
“Keluarganya juga saya kenal baik. Sebagian ada dulu di Inggris, bahkan ada salah satu almarhum teman saya, kiai Buntet, di London ketika sama-sama belajar di sana,” ungkapnya.
Selain Buntet, Cirebon menurut Nasaruddin juga menjadi salah satu daerah yang dinilai memiliki banyak capaian dalam penguatan program Kementerian Agama, khususnya di Jawa Barat.
“Yang kedua juga, Cirebon ini adalah salah satu model. Banyak prestasi dicapai di Jawa Barat, bahkan di sini ada dengan para Kadepag-nya,” tuturnya.
Ia berharap hasil pembahasan dalam NASUHA 2026 tidak berhenti sebagai gagasan di forum simposium. Rumusan yang dihasilkan diharapkan dapat diterapkan dan disampaikan kepada jajaran Kementerian Agama di daerah lain.










