Di sisi lain, kekhawatiran terhadap lingkungan pendidikan dan keterbatasan pemahaman mengenai pilihan layanan pendidikan juga dapat menjadi tantangan bagi orang tua dalam menentukan pendidikan yang tepat bagi anaknya.
“Kami ingin orang tua memahami bahwa anak yang mengalami kesulitan belajar bukan berarti tidak memiliki masa depan. Dengan pendampingan yang tepat, mereka tetap bisa berkembang dan meraih cita-cita,” ujarnya.
Arif menambahkan, setiap anak memiliki karakteristik, kemampuan, serta kebutuhan yang berbeda. Karena itu, proses pembelajaran perlu dirancang secara fleksibel dan tidak menyamaratakan kemampuan seluruh peserta didik.
Dalam pelaksanaannya, pendidikan inklusi dapat mengakomodasi anak dengan berbagai kebutuhan belajar, antara lain disleksia atau kesulitan membaca, disgrafia atau kesulitan menulis, diskalkulia atau kesulitan memahami konsep matematika, serta ADHD yang berkaitan dengan gangguan perhatian dan hiperaktivitas.
Anak dengan autisme, hambatan komunikasi, koordinasi motorik, interaksi sosial, maupun kebutuhan perkembangan lainnya juga dapat memperoleh layanan pendidikan inklusif dengan penyesuaian berdasarkan hasil asesmen dan kebutuhan dukungan masing-masing.










