Abad ke-20 menyaksikan berbagai proyek besar pembangunan yang dirancang negara berakhir gubrah. Kolektivisasi pertanian Uni Soviet, program ujamaa villages di Tanzania, proyek modernisasi pertanian di negara-negara berkembang, perencanaan kota modern seperti Brasília, termasuk proyek rekayasa sosial besar di Cina pada masa Great Leap Forward. Negara senantiasa meyakini bahwa masyarakat dapat diperbaiki melalui desain besar dari pusat kekuasaan.
Negara modern memang terobsesi dengan keterbacaan. Agar mudah diatur, masyarakat harus dipetakan. Bahasa harus dibakukan. Wilayah harus diberi batas. Tradisi harus diklasifikasi. Segala sesuatu yang terlalu rumit akan disederhanakan. Negara modern selalu percaya bahwa dunia akan menjadi lebih baik apabila lebih mudah dibaca.
Namun kebudayaan tidak pernah serupa dengan statistika. Kebudayaan tumbuh seperti hutan: tidak lurus, tidak simetris, tidak selalu dapat diprediksi. Di dalam hutan, waktu bekerja dengan caranya sendiri. Sebuah nama bertahan karena diucapkan berulang-ulang, sebuah jalan menjadi penting karena langkah-langkah yang melewatinya, sebuah tempat dikenali karena ada ingatan yang menetap. Peta mengenal batas. Kebudayaan mengenal ingatan. Dan ingatan selalu menyisakan sesuatu yang menolak selesai menjadi kategori-kategori.










