Pada suatu ketika, wilayah-wilayah di nusantara yang berdaulat selama ratusan bahkan ribuan tahun tiba-tiba harus patron pada Jakarta. Keragaman kerajaan, kesultanan, daerah swapraja, perdikan, komunitas adat, dan daerah-daerah dengan sejarah politiknya sendiri, ditempatkan dalam satu teritori. Mereka harus hidup dalam satu bendera. Satu lambang negara. Satu bahasa. Juga tentu satu penguasa. Bung Hatta pernah mengolok-olok itu dengan menyebutnya sebagai persatean.
Orde berikutnya tidak lebih baik. Penyeragaman menjadi instrumen utama dalam membangun stabilitas politik dan mengendalikan keragaman sosial-budaya. Negara mendorong penyatuan berbagai bentuk kehidupan lokal ke dalam struktur yang lebih seragam melalui penataan desa, birokrasi, pendidikan, bahasa, termasuk OKP. Berbagai bentuk otoritas serta tatanan lokal yang memiliki sejarahnya sendiri secara bertahap ditempatkan di bawah sistem administratif yang sama. Bahkan hutan-hutan lebat yang selama ribuan tahun menghidupi banyak komunitas sosial, tiba-tiba menjadi milik Prajogo Pangestu, Burhan Uray, Bob Hasan, serta sejumlah korporasi yang berafiliasi.










