Satu setengah dekade sejak kali pertama Imagined Communities yang terkenal itu terbit, Ben Anderson mengeluarkan kumpulan esai berjudul The Spectre of Comparisons. Di sana kita menemukan bahwa sebagaimana banyak negara lain di Asia Tenggara, Negara Kesatuan Republik Indonesia juga tidak bisa mengelak dari tatanan lama: peta, batas teritorial, birokrasi, kategori penduduk, dan cara tertentu dalam melihat sesuatu. Kemerdekaan telah mengubah sumber legitimasi kekuasaan, tetapi tidak menghapus seluruh perangkat yang telah membentuk wilayah sebelumnya.
Keadaan menjadi kian tidak sederhana. Negara baru harus membangun persatuan di atas ruang yang telah lebih dulu disusun kekuasaan kolonial. Pada saat yang sama, di dalamnya tetap hidup jaringan kebudayaan, bahasa, sejarah, dan otoritas lokal yang jauh lebih tua. Sebuah paradoks muncul dari ketegangan antara negara yang memerlukan keteraturan untuk bertahan, vis a vis kebudayaan yang hidup melalui kerumitan yang sering kali tak tertampung keteraturan. Di hadapan kekuasaan, kebudayaan lebih sering menjadi korban.










