CIREBON – Kepergian sesepuh Buntet Pesantren, KH Adib Rofiuddin Izza, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, dan warga Nahdlatul Ulama. Senin (1/6/2026).
Di balik wafatnya ulama kharismatik tersebut, tersimpan kisah perjuangan melawan sakit hingga kerinduannya menjalani Ramadan dan ibadah haji.
Adik almarhum yang juga Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren, KH Aris Ni’matullah, mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan KH Adib sebenarnya belum sepenuhnya pulih saat menjalani perawatan sebelum Ramadan.
Namun, almarhum bersikeras pulang ke pesantren karena ingin merasakan suasana bulan suci bersama keluarga para santri.
“Sebetulnya beliau belum pulih, tetapi memaksa pulang karena ingin menyaksikan dan menjalani Ramadan di pondok,” ujar KH Aris.
Menurutnya, Buntet Pesantren memiliki tradisi Ramadan yang khas, mulai dari pasaran kitab, tadarus Al-Qur’an, hingga berbagai kegiatan keagamaan yang melibatkan para santri. Suasana itulah yang dirindukan KH Adib.
Setelah Ramadan berakhir, kondisi kesehatannya justru menunjukkan perkembangan yang sangat baik. KH Adib kembali beraktivitas, berolahraga, dan rutin menjalani pemeriksaan kesehatan.










