Barangkali itu pula yang terjadi pada 1948 ketika sebagian elite dan masyarakat Sunda yang diwakili Adipati Soeria Kartalegawa mendeklarasikan Negara Pasundan. Dalam kecamuk perang mempertahankan kemerdekaan dan tarik-menarik berbagai kepentingan politik, mereka memilih nama Pasundan. Huru-hara dan pergolakan revolusi tampaknya tidak menghilangkan keyakinan bahwa sebuah nama merupakan sumber legitimasi. Lepas dari isu federalisme atau campur tangan kolonial, nama Pasundan dipilih karena memang memanggil ingatan yang lebih komunal dan jauh lebih tua dari negara yang hendak didirikan.
Persoalan muncul dari bagian timur Negara Pasundan. Tokoh-tokoh di Cirebon secara politik lebih setia pada Republik. Mereka juga punya kesadaran budaya yang membuat mawas terhadap reduksi identitas kelompok dari daratan tengah-selatan. Tome Pires memang menempatkan Cherimon sebagai awal dunia Jawa setelah Sungai Cimanuk. Namun persilangan yang begitu kompleks membuat Cirebon tumbuh menjadi kawasan yang tidak lagi sederhana. “Cirebon memiliki bandar yang baik”, tulis Pires. “Didatangi beberapa jung, menghasilkan beras dan bahan makanan, serta dihuni para saudagar yang aktif dalam perdagangan”. Dari pelabuhan Cirebon, hubungan dengan Demak, Malaka, dan bandar-bandar lain di pesisir utara Jawa berkembang semakin luas.










