Provinsi Pasundan Bagian II

banner 468x60

Saya baru menemukan The Satanic Verses sekira pertengahan 2009 di rak buku koleksi pribadi Kang Alwy (Almarhum Ahmad Syubbanuddin Alwy). Diskusi kecil dengan Kang Alwy terjadi sebulan kemudian ketika mengembalikan novel yang pernah memutus kawatkawat diplomatik dengan Inggris tersebut. Ada yang menarik. Tidak sebagaimana misalnya saat mendiskusikan Langit Makin Mendung-nya Ki Panji Kusmin, Ayat-Ayat Setan justru membawa pada perbincangan identitas.

The Satanic Verses kami baca sebagai novel tentang manusia-manusia kompleks— manusia yang hidup di antara berbagai dunia dan mengalami kesulitan ketika dipaksa masuk ke dalam satu kategori identitas. Migrasi dan kolonialisme telah membuat batas-batas antara yang satu dengan yang lainnya menjadi semakin rumit. Sebuah identitas, yang bagi Rushdie terus bergerak, berubah, dan senantiasa dinegosiasikan, mengandung banyak lapisan sekaligus.

To be born again, first you have to die. Sebuah pesawat Bostan meledak di atas Selat Inggris. Gibreel dan Saladin yang jatuh dari langit selamat secara ajaib. Namun keduanya mengalami transformasi yang mengubah hubungan dengan tubuh dan identitas masing-masing. Gibreel Farishta, seorang aktor terkenal karena sering memainkan peran dewa dalam film-film Bollywood, mengalami serangkaian visi dan mimpi. Batas antara kepribadian dan figur-figur yang diperankan menjadi kabur. Kehidupan nyata dan dunia imajinasi keagamaannya saling koyak.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60