Demikianlah. Di ruang ketiga, seseorang tidak bisa lagi membuat pilihan untuk menjadi salah satu secara utuh. Bahasa, ingatan, sejarah, dan kebudayaan dari tempat asal, menyerupai pori-pori yang menyerap pengalaman dari tempat baru yang dihuninya. Ia senantiasa tumbuh dan matang dalam sebuah perjalanan ulang-alik. Stuart Hall menuliskannya dengan bagus dalam esai Cultural Identity and Diaspora. Ia memandang identitas bukan sebagai batu yang diletakkan sekali untuk selamanya. Identitas memang memiliki akar. Namun orang akan terus berhadapan dengan perubahan, migrasi, kolonialisme, diaspora, dan dunia-dunia baru yang datang membawa bahasa serta pengalaman berbeda. Identitas, demikian Hall, lebih tepat dipahami sebagai sebuah perjalanan becoming daripada keadaan being yang telah selesai.
Jika Stuart Hall membantu memahami identitas sebagai proses becoming, dan Homi Bhabha memperlihatkan third space sebagai ruang tempat identitas dinegosiasikan, maka Victor Turner melengkapi keduanya melalui gagasan liminality. The Ritual Process yang dipublikasi pada 1969 menjelaskan liminalitas sebagai keadaan “ambang”: seseorang telah meninggalkan identitas lamanya, tetapi belum sepenuhnya memasuki identitas yang baru. Gibreel dan Saladin hidup dalam keadaan semacam itu, berada di antara asal-usul dan pengalaman baru itu. Hingga identitas mereka terus berubah dan dipersoalkan.










