Sukmajaya menganggap pembangunan benteng Bescherming mengakibatkan Guriyang penjaga Pakungwati perlahan menghilang dan Bencari menjauh. Namun karena kedua adiknya, Sultan Sepuh I dan Sultan Anom I tetap bergeming, Sukmajaya menantang prajurit VOC berperang hingga meletus Perang Cidamar. Selain mendalami ilmu kabatinan dan menyukai wayang, Sukmajaya dikisahkan bisa terbang, bisa alihrupa menjadi apa saja, bahkan menjadi Ratu Topong Baladewa dan membuat kepala-kepala para prajurit VOC berlepasan dari tubuhnya.
Kisah Sukmajaya dalam Legenda Cirebon memberikan jalur cerita yang berbeda sekaligus memperluas gambaran tersebut. Dalam legenda yang ditulis ulang dr. Bambang Irianto, Pangeran Sumajaya memiliki kecenderungan kuat pada kehidupan keagamaan. Setelah Martawijaya menjadi Sultan Sepuh dan Kartawijaya menjadi Sultan Anom, Sumajaya diangkat sebagai martani untuk meredakan ketegangan di antara keduanya. Ia kemudian mengusulkan pembangunan Kraton Kanoman di sebelah utara Kraton Pakungwati. Di tengah tugas politik tersebut, kehidupan keagamaan tetap menjadi bagian penting dari dirinya. Legenda bahkan mengisahkan kebiasaannya bersemedi di Dukuh Siapi-api.










