Peristiwa Perang Cidamar belum pernah ditemukan dalam sumber VOC. Bagian ini perlu ditempatkan sebagai narasi tradisional Kacirebonan mengenai perlawanan Sukmajaya, bukan sebagai peristiwa militer yang sudah terkonfirmasi. Menjadi menarik bagaimana satu tokoh memiliki beberapa jejak berbeda dalam ingatan Cirebon: sebagai putra Girilaya, penasihat kesultanan, seorang yang tekun dalam kehidupan keagamaan, penentang perjanjian dengan VOC, tokoh yang mengembara ke Priangan, Ki Mendura di Cidamar, pemimpin pemberontakan, dan akhirnya seorang pangeran yang menurut legenda dimakamkan di Gunung Sembung.
Pada titik ini tradisi Depok menjadi penting. Masyarakat setempat mengenang Sukmajaya sebagai penyebar Islam dari Cirebon. Jika tradisi itu hendak dihubungkan dengan Sukmajaya yang dikenal dalam sumber-sumber Cirebon, ada persoalan kronologis dan geografis yang perlu ditelusuri lebih serius. Legenda Cirebon menempatkan Sumajaya dalam perjalanan ke Priangan dan kemudian mengembalikannya ke Cirebon sampai wafat di Gunung Sembung. Tradisi Depok menempatkannya dalam ruang lain sebagai tokoh Islamisasi. Kedua cerita belum dapat disatukan menjadi satu biografi sejarah. Tetapi rangkaian tersebut sudah cukup kuat untuk mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan perpindahan manusia, jaringan keagamaan, dan migrasi ingatan dari Cirebon menuju wilayah pedalaman Jawa Barat.










