Sukmajaya

banner 468x60

Sumajaya menolak perjanjian yang menempatkan Sultan Sepuh di bawah pengampuan VOC. Terlebih perjanjian tersebut mengatur juga perubahan status tanah kesultanan dan pembubaran sebagian angkatan perang. Kepada Sultan Sepuh, Sumajaya meminta agar perjanjian dibatalkan. Ia menyatakan kesanggupan menghadapi Belanda apabila mereka bergerak. Namun Sultan Sepuh menolak. Ide Sumajaya dianggap dapat membahayakan Kesultanan.

Kekecewaan itu membawa Sumajaya keluar dari Cirebon. Konon Sumajaya mengembara ke Priangan dan menggalang kekuatan di Dukuh Cidamar. Di sana namanya berganti menjadi Ki Mendura. Hingga pada 1682, Sumajaya bersama murid-muridnya melakukan pemberontakan terhadap VOC dengan menyerang markas mereka di Cianjur, Sukabumi, dan Pasar Gede Bandung. Serangan yang berlangsung sekitar setahun itu membuat VOC kewalahan. Sampai saat VOC tahu bahwa Ki Gede Mendura adalah Sumajaya, saudara Sultan Cirebon, mereka pun meminta Sultan Sepuh agar turut menghentikan pemberontakan.

Bagian ini menarik jika dibandingkan dengan Naskah Kacirebonan. Kedua sumber sama-sama menempatkan Sukmajaya berseberangan dengan VOC, namun dengan detail berbeda. Naskah Kacirebonan menyebut Perang Cidamar dan memberikan kisah kesaktian yang kuat. Legenda Cirebon menceritakan pengembaraan Sumajaya ke Priangan, bergabung dengan masyarakat Dukuh Cidamar, penggunaan nama Ki Mendura, serta pemberontakan terhadap VOC di beberapa tempat. Namun legenda tidak pernah menggunakan istilah “Perang Cidamar”. Cidamar muncul sebagai lokasi dan sebagai nama peperangan dalam dua tradisi yang berbeda, sementara tokohnya tetap bergerak di sekitar persoalan yang sama: penolakan terhadap kekuasaan VOC.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60