Di sinilah perbedaan antara kritik dan penghinaan personal dapat dijaga. Alam dapat disebut keliru ketika memang keliru. Kritiknya dapat disebut dangkal ketika argumennya dangkal. Sikapnya dapat disindir sebagai “si paling aktivis” apabila tulisan yang ditampilkan memang memberikan dasar bagi pembacaan tersebut. Tetapi semua itu harus ditunjukkan melalui kerja argumentasi, bukan melalui klaim tentang kondisi kejiwaannya.
Tetralogi Fathan sendiri tentu terbuka untuk dibantah. Tetralogi bukan kitab suci. Pembacaan mengenai Cirebon dapat diuji. Penggunaan Yi-Fu Tuan, Paul Ricoeur, Salman Rushdie, Geertz, konsep melting pot, salad bowl, hingga gagasan Daerah Istimewa Cirebon dapat diperdebatkan. Bahkan titik-titik paling kuat dalam tetralogi justru akan semakin kuat jika berhadapan dengan kritik yang benar-benar memahami objeknya.
Tetapi kritik semacam itu membutuhkan pekerjaan. Ia harus membaca seluruh tetralogi. Ia harus memahami hubungan antarbagiannya. Ia harus memeriksa konteks Gotrasawala Wangsakerta pada 1599 Saka atau 1677 Masehi. Ia harus menjelaskan mengapa penggunaan Rushdie tidak relevan jika memang demikian. Ia harus menunjukkan bagian yang mengusulkan pembentukan provinsi baru jika tuduhan tersebut hendak dipertahankan. Ia harus menerangkan mengapa teori kebudayaan tidak relevan tanpa mengubah fungsi teori menjadi pekerjaan kementerian.










