Kesalahan tersebut bukan perbedaan interpretasi. Ini persoalan identifikasi objek. Orang dapat berbeda pendapat mengenai makna sebuah peristiwa setelah memahami peristiwanya, tetapi sulit berdebat secara serius jika sejak awal salah mengenali benda yang sedang diperdebatkan. Sejarah memiliki kebiasaan yang menyebalkan bagi orang yang terburu-buru. Sejarah meminta kronologi, konteks, sumber, dan ketelitian. Mengganti objek pembicaraan lalu menyerang objek pengganti adalah cara yang sangat efisien untuk memenangkan perdebatan yang sebenarnya tidak pernah dimulai.
Kesalahan tersebut menjadi semakin menghibur karena kritik Alam ingin tampil sebagai koreksi terhadap cara berpikir kebudayaan. Ia hendak mengajari pembaca tentang apa yang semestinya dibicarakan, tetapi justru gagal membaca perkara yang sedang dibicarakan. Semacam guru yang masuk kelas dengan suara lantang, menulis jawaban di papan tulis, lalu baru belakangan sadar bahwa soal ujiannya berbeda. Yang kurang dalam situasi semacam itu bukan keberanian, tetapi kemampuan membaca soal.










