Aktivisme Kolam Lele dan Revolusi Ayam Petelur

banner 468x60

Di titik ini terlihat kecenderungan yang berulang. Gotrasawala digeser konteksnya. Rushdie digeser fungsinya. Gagasan Daerah Istimewa digeser maknanya. Setelah semuanya berubah bentuk, Alam kemudian tampil sebagai pahlawan yang berhasil menemukan kesalahan pada teks tersebut. Cara ini memang menghemat tenaga. Kritik tidak perlu membongkar argumentasi lawan jika lawannya sudah terlebih dahulu dibuat menjadi versi yang lebih mudah dipukul.

Masalah yang sama terlihat ketika Alam mempertanyakan kegunaan teori kebudayaan dengan membawa daftar persoalan seperti lingkungan, krisis air, buruh migran, kapitalisme, militerisme, penggundulan hutan, ekosistem Laut Jawa, hingga Freeport. Logikanya tampak sederhana. Untuk apa membahas teori kebudayaan jika persoalan-persoalan material tersebut belum selesai?

Pertanyaan itu terdengar gagah sampai seseorang bertanya balik tentang pembagian kerja pengetahuan. Teori kebudayaan memang tidak bertugas menyelesaikan krisis air secara langsung. Kajian buruh tidak otomatis menggantikan kerja organisasi buruh. Kritik sastra tidak harus menyelamatkan ekosistem Laut Jawa. Kajian sejarah juga tidak perlu mengoperasikan mesin penyelamat hutan. Berbagai bidang tersebut dapat saling berhubungan, tetapi masing-masing memiliki objek, metode, dan bentuk kerja yang berbeda.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60