Aktivisme Kolam Lele dan Revolusi Ayam Petelur

banner 468x60

Kekeliruan serupa tampak dalam cara Alam membaca penggunaan Salman Rushdie. Dalam tetralogi, Rushdie dipakai untuk membicarakan identitas dan pengalaman kebudayaan. Referensi tersebut berfungsi sebagai perangkat pemikiran untuk melihat bagaimana identitas terbentuk melalui sejarah, perjumpaan, dan pengalaman. Alam justru menangkapnya sebagai tempelan yang sengaja disuguhkan untuk menghasilkan efek tertentu. Bahkan ia mengidentifikasinya sebagai “…. Penderitaan Rushdie”. Sungguh “Jaka Sembung bawa Golok”.

Jika penggunaan Rushdie dianggap keliru, tentu sangat mudah membantahnya secara akademis. Tunjukkan konsep yang salah. Tunjukkan konteks yang tidak cocok. Tunjukkan bagaimana pemikiran Rushdie disalahgunakan dalam membaca Cirebon. Itu baru kritik. Menyebut sebuah nama sebagai tempelan tidak menyelesaikan persoalan apa pun. Nama pengarang bisa dicurigai dalam satu kalimat, tetapi gagasannya hanya dapat dibantah dengan pembacaan.

Persoalan berikutnya menyangkut tuduhan bahwa tetralogi sedang mengusulkan teritorial baru bagi Cirebon. Tuduhan ini bahkan berhadapan langsung dengan argumen esai Bagian IV. Esai tersebut justru dibuka dengan penolakan terhadap bayangan bahwa Cirebon merupakan provinsi yang belum jadi. Dengan tegas Fathan juga menulis bahwa Cirebon tidak membutuhkan nama dan wilayah baru. Gagasan Daerah Istimewa Cirebon yang dibicarakan dalam esai memiliki arah berbeda. Yang dipersoalkan adalah kemungkinan pemberian kewenangan tertentu kepada Cirebon dalam sebuah provinsi. Perhatian diarahkan kepada sejarah, kebudayaan, ruang hidup, representasi masyarakat, dan pembagian kewenangan. Membacanya sebagai proyek pembentukan wilayah baru berarti mengubah tesis yang sedang dibantah menjadi tesis lain.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60