Panitia malam Chairil akan menjadi yang paling sibuk dalam sejarah sastra dunia. Sebab sebelum ada puisi yang dibaca, panitia harus memastikan kapitalisme sudah tumbang, hutan harus kembali, Laut Jawa harus pulih, militerisme harus ditangani, buruh migran harus aman, dan Freeport harus selesai. Setelah semua itu beres, barulah sebuah puisi boleh dibacakan. Ini juga super ngawur.
Persoalannya bukan apakah lingkungan, buruh, kapitalisme, atau ekosistem penting. Tentu semuanya penting. Persoalannya adalah cara Alam menggunakan persoalan-persoalan tersebut sebagai palu untuk memukul setiap kerja kebudayaan yang tidak berbentuk aktivisme menurut ukuran pribadinya. Ini bukan radikalisme. Ini lebih dekat dengan kebiasaan menilai seluruh kehidupan melalui satu penggaris lalu marah ketika dunia tidak mau mengikuti ukuran penggaris tersebut.
Seorang aktivis yang sungguh bekerja memahami bahwa kehidupan bersama dibangun oleh banyak jenis pekerjaan. Ada yang mengorganisasi buruh. Ada yang bekerja untuk lingkungan. Ada yang merawat arsip. Ada yang menulis sejarah. Ada yang menghidupkan sastra. Ada yang mengerjakan pendidikan. Ada yang bekerja dalam komunitas. Tidak semuanya harus mengklaim sedang menyelesaikan seluruh problem kapitalisme agar pekerjaannya memiliki arti. Tetralogi Fathan tidak punya kewajiban untuk memikul seluruh penderitaan dunia.










