Jika ukuran Alam diterapkan secara konsisten, Karl Marx barangkali harus menunda Das Kapital. Sebelum membahas kapitalisme, ia mesti membagikan sembako terlebih dahulu. Beras, minyak, telur, mungkin ditambah paket lele dan nila agar kritiknya memenuhi syarat aktivisme yang dianggap sah. Setelah semua persoalan kebutuhan pokok selesai, Marx baru boleh kembali ke meja dan melanjutkan analisis mengenai kapitalisme.
Logika semacam itu tentu konyol. Tetapi justru karena itulah ia berguna sebagai cermin. Sebuah teori tidak kehilangan kegunaannya hanya karena tidak secara langsung menyelesaikan semua persoalan dunia. Teori bekerja dengan menyediakan perangkat untuk memahami hubungan, struktur, pengalaman, dan makna. Kerja politik dan sosial kemudian mempunyai medan praktiknya sendiri. Menuntut satu esai kebudayaan menyelesaikan kapitalisme, militerisme, kehancuran hutan, buruh migran, Freeport, dan ekosistem Laut Jawa sekaligus adalah pekerjaan paling ngawur.
Keganjilan itu semakin tampak dalam sikap Alam terhadap Malam Chairil. Ia menyatakan kesediaan untuk ikut apabila kegiatan tersebut dapat menyelesaikan berbagai persoalan besar tadi. Dengan standar seperti itu, sebuah acara sastra berarti harus bekerja sebagai kementerian lingkungan hidup, organisasi buruh, lembaga advokasi, pusat kajian militerisme, badan penyelamat Laut Jawa, sekaligus lembaga penyelesaian persoalan Freeport.










